Ketika kita membuat desain User Interface, sebenarnya kita sedang membuat keputusan-keputusan, baik yang impact-nya besar maupun kecil ke keseluruhan user experience. Apa saja contohnya?

  • Keputusan mau pakai warna teks #000000 atau #222222
  • Keputusan mau pisah konten list pakai garis atau enggak
  • Keputusan apakah form registrasi harus kita buat jadi beberapa langkah atau dijadikan 1 halaman saja
  • Keputusan mana informasi yang diutamakan sehinggan harus di-emphasize dan mana yang kurang penting jadi harus di-deemphasize atau bahkan disembunyikan

Pertanyaan, bagaimana cara membuat keputusan desain yang paling tepat untuk proyek yang sedang kita kerjakan ini?


Saya secara resmi belajar UX Research baru tahun 2015 ketika bekerja sebagai UX Designer. Walau begitu, ternyata di tahun 2011 ketika mengerjakan skripsi, riset yang saya lakukan ya kurang lebih seperti UX Research.

Waktu itu saya dan tim membuat desain kios informasi digital. Sebelum membuat desain, kita melakukan foundational research dulu; stakeholder interview, survey, dan competitive analysis. Setelah desain jadi, kita tes ke pengguna. Waktu itu belum tahu apa itu usability testing.

Di penghujung tahun 2020 ini, berarti saya sudah 5 tahun lebih saya melakukan UX Research. Makin dipelajari dan dijalani, saya justru merasa makin banyak yang saya belum mengerti…


NB: Ini hanya tulisan ringan yang kurang komprehensif

Photo by Campaign Creators on Unsplash

Belakangan ini sebagai bagian dari pekerjaan, saya banyak ngajar, mentoring ataupun sharing session seputar UX Research. Kadang nggak mudah bagi orang yang saya ajari untuk mengerti langsung, seperti apa seharusnya insight yang disintesis dari riset. Ini wajar banget.

Saya yang sudah 6 tahun mengerjakan ini aja kadang masih bingung, apalagi yang belum lama belajar. Setiap ada proyek riset baru dengan topik baru, saya merasa sedang belajar ulang dari awal.

Di proses mentoring, biasanya para mentee akan meminta feedback dan bertanya apakah insight yang mereka buat sudah sesuai dan baik. …


Ketika ngomongin area UX atau UI/UX atau digital product design atau apapun sebutannya, spektrum pekerjaan yang ada di dalamnya sebenarnya luas banget. Ada tim skala besar (100+ orang), menengah (puluhan), ada juga tim kecil (di bawah 10 orang). Ada yang desainernya kerja palugada (apa lu mau gue ada), ada yang ngerjain hal-hal super spesifik kaya UX Engineer atau DesignOps.

Belum lama saya diskusi dengan beberapa teman saya sesama praktisi UX tentang betapa besarnya kesenjangan (gap) antara perusahaan yang punya tim desain besar (biasanya para unicorn) dan perusahaan yang tim desainnya masih kecil. …


Kalau mengobservasi grup-grup online desain gitu, saya memperhatikan kalau konsep human-centred design (HCD) sudah mulai banyak dimengerti khalayak ramai. Minimal mereka yang bekerja sebagai designer atau yang lagi belajar sudah tahu bahwa desain yang baik itu yang sesuai dengan user-nya.

Satu hal yang menurut saya kurang banyak dibicarakan yaitu teori HCD akan selalu menyesuaikan konteks dimana ia diterapkan. Kalau di internet/tech company, ya penerapan mindset HCD ada di bidang yang sering kita sebut User Experience alias UX ini.

Sumber

Menurut saya diagram di atas masih relevan, tim UX seharusnya bertugas memfasilitasi dan membuat strategi yang menyatukan 3 aspek utama yaitu bisnis…


Saya dan tim NAS baru aja menyelesaikan satu proyek desain untuk suatu produk digital baru. Walau sudah bekerja di bidang ini lumayan lama, saya tetap merasa di setiap proyek selalu ada pelajaran baru yang saya dapat. Kali ini tentang bagaimana menerapkan proses desain yang proper di timeline yang pendek.

Karena harus me-manage proyek dengan durasi super cepet, saya harus berpikir hal-hal fundamental: Apa saja hal yang harus dikerjakan dan bagaimana urutannya secara prioritas? Karena butuh kolaborasi, bagaimana memaksimalkan interaksi tim yang minim karena kita kerja secara remote?

Saya coba jelaskan dengan singkat proses yang akhirnya kami lalui. …


Sebagai orang yang tumbuh besar di Jakarta, menuntut ilmu, dan kerja di Jakarta, saya merasa punya privilese yaitu akses dekat ke industri.

Ada masanya saya suka datang ke UX meetup, seminar atau sharing session yang diadakan oleh perusahaan tech startup atau agency yang kantornya di Jakarta. Akhirnya hobi itu berhenti sejak saya merasa:

  1. Materi yang di-share udah berulang
  2. Suasananya sangat satu arah dan kaku
  3. Networkingnya kurang

Tapi ini kan pendapat saya. Mungkin untuk orang yang tidak punya akses, ilmu tersebut berguna bagi mereka. Hal ini yang membuat saya terus bertanya-tanya, kenapa ilmu harus seeksklusif ini? …


Ini hal yang belum banyak dibahas tapi menurut saya penting untuk dimengerti para praktisi UX. Kita semua tahu untuk mendesain produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan users, kita butuh melakukan UX research.

Karena praktisi UX latar belakang pendidikannya macam-macam, banyak yang mungkin belum tahu tentang etika riset ketika kita melakukan riset terhadap manusia yang umum dipelajari di pendidikan ilmu psikologi atau sosial.

Photo by Christina @ wocintechchat.com on Unsplash

“Partisipan”, bukan “subjek”

Saat ini, penggunaan kata subjek penelitian untuk manusia sudah tidak dipraktekkan lagi. …


Ketika belajar S2 dulu, setiap minggu ada kelas yang diisi oleh alumni yang sudah jadi praktisi di berbagai perusahaan seperti BBC, Google, UsTwo, dan yang paling saya tunggu-tunggu, Government Digital Service (GDS).

Motivasi saya jauh-jauh cari kuliah di UK ya karena GDS. Dulu (sampai sekarang juga sih) saya bermimpi Indonesia bisa punya badan kaya GDS yang bikin standarisasi produk dan layanan digital buat seluruh institusi pemerintahan. Karena berkhayal masih gratis jadi nggak apa-apa ya :)

Saat itu yang sharing di kelas adalah Senior UX Researcher di sana. Beliau bercerita bagaimana riset di lakukan di GDS. Yang bikin saya amazed adalah…


Berhubung masih suasana Lebaran dan maaf-maafan, saya mau ngebahas salah satu teori HCI yaitu error alias kesalahan. Berurusan dengan behaviour manusia nggak akan lepas dari human error karena membuat kesalahan adalah natural bagi kita.

Human error bisa terjadi karena banyak hal contohnya short-term memory kita kepenuhan, instruksi nggak jelas, ada distraksi, atau ya sesimpel jari kepleset aja (namanya juga manusia).

Berdasarkan teori, ada dua jenis error yang biasa terjadi ketika user berinteraksi dengan suatu website atau aplikasi yaitu mistake dan slip. Mari kita bahas satu persatu.

Slip

Secara sederhana definisi dari slip adalah: niatnya benar, ekseskusinya salah karena nggak sengaja.

Wahyuni Febriani

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store