Tantangan ketika belajar menjadi UX Researcher

Wahyuni Febriani
3 min readDec 26, 2020

--

Saya secara resmi belajar UX Research baru tahun 2015 ketika bekerja sebagai UX Designer. Walau begitu, ternyata di tahun 2011 ketika mengerjakan skripsi, riset yang saya lakukan ya kurang lebih seperti UX Research.

Waktu itu saya dan tim membuat desain kios informasi digital. Sebelum membuat desain, kita melakukan foundational research dulu; stakeholder interview, survey, dan competitive analysis. Setelah desain jadi, kita tes ke pengguna. Waktu itu belum tahu apa itu usability testing.

Di penghujung tahun 2020 ini, berarti saya sudah 5 tahun lebih saya melakukan UX Research. Makin dipelajari dan dijalani, saya justru merasa makin banyak yang saya belum mengerti dan butuh pelajari. Contohnya, baru belakangan saya terlibat dan mempelajari tentang market research. Padahal saya menghabiskan 3 tahun pertama karir di sebuah agensi digital marketing, tapi baru sekarang ngeh tentang ilmu marketing dan baru sadar apa hubungannya dengan User Experience.

Setelah melalui proses belajar dari nol sampai sekarang saya beberapa kali mentoring junior, ada beberapa tantangan ketika belajar UX Research yang saya coba simpulkan di tulisan ini. Kalau ada yang mau tambahan, silahkan komentar ya!

Photo by Startaê Team on Unsplash

Tantangan berpikir kritis dan analitis

Critical thinking, analytical thinking, dan berpikir terstruktur itu memang hal yang agak abstrak tapi penting banget. Skill ini akan sangat terpakai di awal ketika scoping & planning riset dan analisa data. Tantangan terbesar pemula UX Research menurut saya adalah perpindahan dari mindset yang fokus di metode jadi mindset riset yang fokus ke mendalami masalah/menjawab pertanyaan.

Saya nggak merasa bisa kasih saran di sini karena bukan ahlinya. Jadi, silahkan baca aja artikel bagus ini ya: 3 Simple Habits to Improve Your Critical Thinking dan juga sumber lainnya.

Tantangan mengutarakan argumen terstruktur dalam tulisan

Inget nggak sih ketika sekolah dulu, kebanyakan ulangan atau ujian kita bentuk soalnya pilihan ganda atau isian. Soal esai pun biasanya diisi dengan jawaban yang cukup singkat 1–2 paragraf. Implikasinya, kita jadi nggak terbiasa deh untuk membuat tulisan yang argumennya terstruktur. Padahal untuk UX Researcher ini penting banget. Bagaimana struktur argumen yang baik? Bagaimana menampilan evidence atau landasan dari argumen kita? Bagaimana membuat actionable insights dari findings riset kita?

Tantangan menulis dalam Bahasa Inggris

Suka tidak suka, kebanyakan perusahaan atau startup teknologi menggunakan Bahasa Inggris untuk komunikasi tertulis formal. Saya sendiri selama berkarir di tech, selalu ada bos yang bukan orang Indonesia jadi mau nggak mau pakai Bahasa Inggris deh untuk komunikasi kerjaan.

Menulis pakai Bahasa Inggris memang susah, dulu saya sendiri ketika tes IELTS sampai harus ulang 3 kali. Sudahlah kita kesulitan membuat argumen tertulis, eh ini lagi harus dalam menulisnya pakai bahasa lain.

Saran saya cuma satu; latihan menulis terus. Bahasa adalah skill yang kalau nggak dipakai akan berangsur hilang. Jadi, satu-satunya jalan adalah ya latihan terus (ini nulis untuk diri saya sendiri sebenarnya wkwk).

Tantangan mengkomunikasikan hasil riset

Sebagian dari komunikasi sudah dijelaskan pada poin-poin di atas. Satu hal lagi yang belum dibahas adalah menyesuaikan apa yang mau kita komunikasikan terhadap siapa audience yang akan kita presentasikan. Apakah hasil riset kita menjawab pertanyaan dan impactful bagi mereka? Bagaimana mengkomunikasikan hasil riset tanpa menimbulkan interpretasi berbeda?

Kembali ke cerita skripsi saya. Hal paling memorable dari proses membuat skripsi adalah pembimbing saya yang sangat supportive. Beliau membantu para mahasiswa bimbingannya nggak hanya dalam menyelesaikan skripsi, tapi juga untuk mendapat mindset riset dan analytical thinking. Kadang ketika kami bimbingan skripsi, beliau cuma kasih feedback: “menurut kamu ini relevan nggak?” atau “menurut kamu akan valid nggak hasilnya?”

Dua pertanyaan ini yang juga masih menjadi bekal saya di proses belajar sebagai UX Researcher sehari-hari.

--

--

Wahyuni Febriani

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.