MVDP — Minimum Viable Design Process

Saya dan tim NAS baru aja menyelesaikan satu proyek desain untuk suatu produk digital baru. Walau sudah bekerja di bidang ini lumayan lama, saya tetap merasa di setiap proyek selalu ada pelajaran baru yang saya dapat. Kali ini tentang bagaimana menerapkan proses desain yang proper di timeline yang pendek.

Karena harus me-manage proyek dengan durasi super cepet, saya harus berpikir hal-hal fundamental: Apa saja hal yang harus dikerjakan dan bagaimana urutannya secara prioritas? Karena butuh kolaborasi, bagaimana memaksimalkan interaksi tim yang minim karena kita kerja secara remote?

Saya coba jelaskan dengan singkat proses yang akhirnya kami lalui. Tambahan konteks: produk berupa aplikasi mobile dengan 3 fitur utama.

Persiapan (2–3 hari)

Sebelum mulai proses desain, seluruh tim bergotong royong untuk mempersiapkan hal-hal di atas. Jadi, ketika masuk timeline desain semua sudah siap.

User Flow & Konten (1/2 hari)

Untuk ini kami mengadakan meeting online sekitar 2 jam untuk bareng-bareng untuk membuat user flow. Setelah itu, lanjut bikin information architecture alias daftar konten dan hirarkinya yang jelas. Proses ini bisa berjalan lancar terimakasih kepada tool kolaborasi kesukaan kita, Miro.

Sketsa (1 hari)

Karena waktu yang sungguh mepet, kami hanya membuat sketsa halaman khusus aja. Halaman registrasi, login, dan lain-lain yang tipikal akan langsung dibuat di Figma. Halaman-halaman ini akan langsung dikerjakan UI Designer secara paralel ketika UX Designer mengerjakan sketsa halaman khusus.

Hasil sketsa diupload ke Miro board, kami pakai fitur comment untuk diskusi hasil sketsa tersebut kalau ada hal-hal yang gak sesuai atau kurang jelas.

Visual (2–3 hari)

Setelah jelas flow-nya, berapa banyak halaman yang akan dibuat, konten tiap halaman apa saja, dan sketsa layout dan UI, kita lanjut bikin interface-nya. Ini juga kita lakukan dengan mindset agile dengan ngebagi proses jadi 2 step.

Setelah ini sebenarnya kami masih punya proses prototyping & usability testing, tapi dibahas terpisah aja kali ya.

Melalui proses ini saya belajar kalau menerapkan proses desain yang proper itu memungkinkan selama kita fleksibel dan memanfaatkan tools kolaborasi dan komunikasi dengan baik. Tentunya isu dan miskomunikasi tetep banyak terjadi, tapi kami sadar bahwa keadaan bisa lebih buruk kalau kita nekat langsung bikin visual dari awal. Semoga bermanfaat!

NB: tulisan ini akan diupdate dengan ilustrasi contoh di lain waktu

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.