Iterasi: kunci dari proses UX design

Ketika belajar S2 dulu, setiap minggu ada kelas yang diisi oleh alumni yang sudah jadi praktisi di berbagai perusahaan seperti BBC, Google, UsTwo, dan yang paling saya tunggu-tunggu, Government Digital Service (GDS).

Motivasi saya jauh-jauh cari kuliah di UK ya karena GDS. Dulu (sampai sekarang juga sih) saya bermimpi Indonesia bisa punya badan kaya GDS yang bikin standarisasi produk dan layanan digital buat seluruh institusi pemerintahan. Karena berkhayal masih gratis jadi nggak apa-apa ya :)

Saat itu yang sharing di kelas adalah Senior UX Researcher di sana. Beliau bercerita bagaimana riset di lakukan di GDS. Yang bikin saya amazed adalah fakta bahwa mereka ngelakuin satu proses riset hanya dalam 1–2 minggu aja. Alias mereka ngejar sebanyak-banyaknya iterasi desain sebelum satu produk/fitur masuk ke development.

Beliau juga cerita bahkan mereka sering nggak sempet bikin report, jadi yaudah presentasi pakai papan tulis & post-it berisi insight dari riset dan langsung dipakai untuk iterasi desain selanjutnya. Ternyata di sana badan pemerintahan pun udah nggak kalah sama industri.

Walau mungkin kedaan kita nggak selalu ideal seperti di atas, tapi penting bagi kita designers untuk punya mindset untuk terus beriterasi sampai mencapai desain yang paling sesuai. Caranya? Setelah bikin sesuatu, evaluasi, perbaiki, evaluasi lagi, perbaiki lagi dan seterusnya.

Seperti yang diilustrasikan The Design Squiggle di atas, apapun framework-nya, proses desain adalah proses mengolah ide dan insight yang abstrak menjadi desain yang nyata, dari banyak ide ke hanya satu yang mendekati ideal. Dan kunci untuk mencapai itu adalah: iterasi.

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.