Insight yang baik itu yang seperti apa?

NB: Ini hanya tulisan ringan yang kurang komprehensif

Wahyuni Febriani
2 min readOct 3, 2020
Photo by Campaign Creators on Unsplash

Belakangan ini sebagai bagian dari pekerjaan, saya banyak ngajar, mentoring ataupun sharing session seputar UX Research. Kadang nggak mudah bagi orang yang saya ajari untuk mengerti langsung, seperti apa seharusnya insight yang disintesis dari riset. Ini wajar banget.

Saya yang sudah 6 tahun mengerjakan ini aja kadang masih bingung, apalagi yang belum lama belajar. Setiap ada proyek riset baru dengan topik baru, saya merasa sedang belajar ulang dari awal.

Di proses mentoring, biasanya para mentee akan meminta feedback dan bertanya apakah insight yang mereka buat sudah sesuai dan baik. (Saya nggak akan jelasin bagaimana cara membuat insights ya karena butuh waktu lama untuk menuliskannya heuhehe).

Pada proyek yang terakhir saya kerjakan, kita sempat berada di keadaan mepet deadline & presentasi yang membuat laporan riset harus dikejar keroyokan dan ngebut. Saya pun harus kasih feedback terus-terusan kepada para mentee tersebut. Akhirnya, karena udah cukup merasa overwhelmed, saya cuma bisa kasih arahan:

  • Pastikan insight menjawab objektif riset
  • Pastikan insight itu sesuatu yang fresh atau menarik, bukan hal yang semua audience (stakeholders atau client) juga sudah tahu
  • Audience setelah baca insight tersebut gak cuma ngomong “so what?” atau “trus gimana?”
  • Audience yang baca insight ini harus tau apa yang mereka mau lakukan selanjutnya

Tentunya proses sintesis ini akan jauh lebih lancar kalau di awal scope & rencana risetnya juga sudah matang.

Ada yang mau ditambahkan? Feel free to drop a comment! Happy synthesizing!

--

--

Wahyuni Febriani

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.