Demokratisasi ilmu pasca pandemi

Sebagai orang yang tumbuh besar di Jakarta, menuntut ilmu, dan kerja di Jakarta, saya merasa punya privilese yaitu akses dekat ke industri.

Ada masanya saya suka datang ke UX meetup, seminar atau sharing session yang diadakan oleh perusahaan tech startup atau agency yang kantornya di Jakarta. Akhirnya hobi itu berhenti sejak saya merasa:

  1. Materi yang di-share udah berulang
  2. Suasananya sangat satu arah dan kaku
  3. Networkingnya kurang

Tapi ini kan pendapat saya. Mungkin untuk orang yang tidak punya akses, ilmu tersebut berguna bagi mereka. Hal ini yang membuat saya terus bertanya-tanya, kenapa ilmu harus seeksklusif ini? Bagaimana ilmu ini bisa inklusif dan bisa diakses oleh siapapun di Indonesia?

Sejak pandemi Covid-19 terjadi, kita bisa melihat bahwa acara-acara yang selama ini dilakukan offline tersebut, sekarang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang karena dilakukan online. Di tengah keadaan yang penuh pesimisme ini, demokratisasi ilmu ini menjadi sesuatu yang membuat saya optimis. Semoga walau nanti pandemi telah berlalu, orang-orang tetap semangat membagi ilmu secara inklusif.

Tantangan selanjutnya karena nantinya kemungkinan informasi akan berlebihan, bagaimana memilih/menyortir ilmu yang benar-benar kredibel dan relevan bagi kita?

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.

UX Consultant independen. Menulis tentang User Experience dalam Bahasa Indonesia.